Saturday, 14 March 2015

Apa Itu Kebudayaan?

Kebudayaan menurut Prof.Dr. Koentjaraningrat  dalam bukunya Pengantar Antropologi I (1996:72) adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan belajar. Dengan demikian hampir semua tindakan manusia adalah “kebudayaan”, karena jumlah tindakan yang dilakukannya dalam kehidupan bermasyarakat yang tidak dibiasakannya dengan belajar (naluri, refleks, tindakan akibat proses fisiologi, tindakan membabi-buta), sangat terbatas. Bahkan tindakan yang bersifat naluri (makan, minum, berjalan) juga telah banyak dirombak oleh manusia sehingga menjadi tindakan kebudayaan. Manusia makan pada waktu tertentu dengan cara tertentu, sesuai dengan kebudayaan masing-masing. Demikian juga cara berjalan, berbeda antara orang kebanyakan dengan cara berjalan prajurit militer atau peragawati, inipun sebagai tindakan kebudayaan yang dibiasakan dengan belajar.

Kebudayaan (culture), perlu dibedakan dengan peradaban (civilization). Peradaban adalah istilah yang dipakai untuk menyebut bagian-bagian/unsur-unsur dari kebudayaan  yang sifatnya halus, maju dan indah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan-santun dan pergaulan, kepandaian menulis, organisasi bernegara dan lain-lain. Istilah peradaban juga sering dipakai untuk menyebut bagian kebudayaan seperti teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, masyarakat kota yang maju dan kompleks. 

Wujud Kebudayaan
Wujud kebudayaan, menurut Prof Koentjaraningrat (1996: 56) digambarkan dalam 4 lingkaran konsentris yaitu :
1.      Lingkaran inti adalah nilai-nilai budaya (sistem ideologis)
2.      Lingkaran kedua dari dalam adalah sistem budaya (sistem gagasan)
3.      Lingkaran ketiga adalah sistem sosial (sistem tingkah laku)
4.      Lingkaran keempat adalah kebudayaan fisik (benda-benda fisik).

Contoh dari wujud konkret kebudayaan (lingkaran/wujud keempat) antara lain bangunan-bangunan megah, benda-benda bergerak, dan semua benda hasil karya manusia yang bersifat konkrit dan dapat diraba serta difoto. Wujud ketiga/sistem tingkah laku, meliputi menari, berbicara, tingkah laku melakukan pekerjaan, semua gerak-gerik dan dari hari ke hari, merupakan pola-pola tingkah laku yang dilakukan berdasarkan sistem sosial.Wujud ketiga ini masih bisa dipotret dan konkret.

Sedangkan wujud kedua/ sistem gagasan, tempatnya pada kepala tiap individu  warga kebudayaan. Wujud kedua ini bersifat abstrak, tak dapat difoto, dan hanya dipahami (oleh warga kebudayaan lain) setelah ia mempelajari melalui wawancara atau dengan membaca apa yang dia tulis. Berikutnya wujud pertama/ sistem ideologis, adalah gagasan-gagasan yang telah dipelajari oleh para warga sejak usia dini, dan karenanya sukar diubah, disebut juga “nilai-nilai budaya” yang menentukan sifat dan corak pikiran, cara berpikir serta tingkah laku manusia suatu kebudayaan

Hubungan Hukum Dengan Kebudayaan

Dalam AH, hukum ditinjau sebagai aspek dari kebudayaan. Manusia dalam hidup bermasyarakat telah dibekali untuk berlaku dengan menjunjung tingi nilai-nilai budaya tertentu. Nilai-nilai budaya, yang oleh orang dalam masyarakat tertentu harus dijunjung tinggi, belum tentu dianggap penting oleh warga masyarakat lain. Nilai-nilai budaya tercakup secara lebih konkret dalam norma-norma sosial, yang diajarkan kepada setiap warga masyarakat supaya dapat menjadi pedoman berlaku pada waktu melakukan berbagai peranan dalam berbagai situasi sosial.

Norma-norma sosial sebagian tergabung dalam kaitan dengan norma lain, dan menjelma sebagai pranata atau lembaga sosial yang semuanya lebih mempermudah manusia mewujudkan perilaku yang sesuai dengan tuntutan masyarakatnya atau yang sesuai dengan gambaran ideal mengenai cara hidup yang dianut dalam kelompoknya. Gambaran ideal atau desain hidup atau cetak biru, yang merupakan kebudayaan dari masyarakat itu hendak dilestarikan melalui cara hidup warga masyarakat, dan salah satu cara untuk mendorong para anggota masyarakat supaya melestarikan kebudayaan itu adalah hukum.

Contoh untuk menjelaskan hubungan hukum dan kebudayaan akan diberikan contoh mengenai hubungan kekerabatan dalam sistem kekerabatan di Bali. Menurut kebudayaan Bali, perhitungan garis keturunan adalah suatu hal yang sangat penting. Nilai utamanya adalah gagasan bahwa anak laki-laki diakui sebagai pengubung dalam garis keturunan. Hal ini menghasilkan norma sosial, yaitu seseorang mempertimbangkan garis keturunannya melalui ayah sehingga dapat dikonstruksikan (secara1 konseptual) suatu garis keturunan yang berkesinambungan, yang menghubungkan para laki-laki sebagai penghubung-penghubung garis keturunan. Norma sosial mengenai garis keturunan itu berhubungan dengan norma sosial lainnya dalam kaitan dengan pengaturan soal-soal  yang berkenaan dengan kekerabatan, seperti norma sosial bahwa seseorang istri harus mengikuti suami ke tempat tinggal kerabat dari suaminya (patrilokal), norma sosial yang lain, harta dari seorang ayah diwariskan pada anaknya yang laki-laki. Norma sosial ini semuanya  bergabung menjadi suau lembaga  atau pranata sosial, yaitu pranata atau lembaga keluarga. Pranata ini diikuti sebagai pedoman berlaku oleh semua anggota masyarakat, bila ada anggota masyarakat tidak mengindahkan norma sosial itu, maka ini berarti nilai budaya yang mendasarinya diingkari, dan jika pelanggaran itu sering terjadi, maka nilai budaya yang mendasarinya, lama-lama akan memudar dan terancam hilang.

Sebagian dari norma sosial itu kalau dilanggar akan memperoleh sanksi yang konkret yang dikenakan oleh petugas hukum atau wakil-wakil rakyat yang diberi wewenang untuk itu. Sebagai contoh,  ada seorang istri di Bali tidak mau mengikuti suami ke tempat tinggal kerabatnya, maka ia akan dikenakan sanksi yaitu diceraikan. Jadi sebagian dari nilai-nilai budaya yang tercermin dalam norma sosial juga dimasukkan ke dalam peraturan hukum, dan karena perlindungannya terjadi melalui proses hukum, maka usaha mencegah pelanggarannya dengan sanksi hukum, dibandingkan dengan norma sosial yang merupakan kebiasaan saja.

No comments:

Post a Comment